Appreciation Notes By Harris Syaus about Zonder Lentera

Catatan Apresiatif:

by Harris Syauss

Zonder Lentera dan Matinya Cahaya Ilmu Pengetahuan

Dua anak muda berkendara sepeda di malam hari tanpa lampu seusai hujan lebat menjadi titik berangkat seluruh perjalanan cerita di atas panggung dalam lakon Zonder Lentera karya Kwee Tek Hoay oleh Kelompok Pojok yang dipentaskan selama dua hari berturut di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki Jakarta, Sabtu & Minggu, 26 & 27 Januari 2018, pukul 19.30 & 16.00 WIB.

Adegan demi adegan berjalan lancar selama tiga jam. Penonton dibuat terpingkal tawa dalam setiap kemunculan pemain-pemainnya. Bagaimana sebuah persoalan yang dianggap sederhana bisa mengakibatkan hal-hal di luar dugaan akibat asumsi dan prasangka berlebihan tanpa didasari pengetahuan; situasi komedi yang diproduksi oleh kebodohan.

Naskah Zonder Lentera (atawa Hikajatnja Satoe Wijkmeester Rakoes) merupakan hasil adaptasi dari novel karya Kwee Tek Hoay —seorang yang memiliki sumbangsih besar terhadap perkembangan Bahasa Indonesia ke depannya— oleh Veronica B. Vonny. Kwee Tek Hoay sendiri pengagum realisme Ibsen yang dalam karyanya juga selalu menjadikan tokoh-tokoh dari masyarakat biasa (baca: kelas bawah) sebagai penggerak cerita yang —karena keluguan dan kurangnya pengetahuan— membawa mereka ke situasi kekonyolan mengenaskan.

Salah satu kekuatan naskah ini terletak pada penggunaan bahasa Melayu Tionghoa. Di mana aksen atau cara berdialognya memiliki tingkat kesulitan sendiri untuk diatasi para aktor. Dengan mengambil latar suasana Batavia zaman dulu, setiap pemain/pemeran harus bisa merekonstruksi kembali gaya ucap tersebut — bukan melafalkan dialek Melayu Tionghoa ke dalam gaya berbahasa Betawi atau daerah lain. Dalam konteks ini, nyaris semua aktor terperangkap pada kebiasaan berbicara hari ini. Sehingga keindahan pada bunyi asonansi dan aliterasi yang terdapat pada diksi dialog-dialognya belum sepenuhnya terpenuhi.

Pendekatan keaktoran yang berangkat dari konsep realis berusaha dipresentasikan dengan maksimal oleh aktor-aktor Kelompok Pojok (Haris ‘dogol’ Surahman, Diana R. Jannah, Melanie Astim, Ratu Su’ud, Devi Ayudya Satriani, Yunusa W, dll). Meskipun di beberapa adegan terasa kendur dan muncul kengototan-kengototan yang tidak perlu, semangat dan intensitas mereka patut diapresiasi; tidak mudah mempertahankan konsentrasi dalam durasi lama di atas pentas.

Kalau keberhasilan sebuah pentas diukur dari banyaknya tawa dan tepuk tangan penonton, aktor-aktor Kelompok Pojok sudah mendapatkannya. Namun, yang perlu disadari, tawa dan tepuk tangan penonton seringkali menjadi jebakan. Banyak aktor terperangkap di sana yang menjadikan permainan mereka keluar dari kesepakatan bersama — tendensius. Dan pada pentas hari kedua ini, beberapa aktor menjadi korbannya; tergoda untuk membuat penonton tertawa dengan menghianati perannya.

Arsitektur yang mengisi ruang pentas ditata simetris serupa dinding-dinding rumah berjendela; berfungsi juga sebagai tembok jalanan berlapis dengan garis-garis lurus yang mengesankan kaku, lampau, dan sepi. Penata Set (Ocklay Stage) tidak banyak memberi beban tambahan pada ruang —yang memang akan kepenuhan apabila sebagian besar pemain hadir di atas panggung— dengan memberi ornamen dan properti sekadarnya.

Beberapa ruang yang tidak bisa diantisipasi di bagian panggung utama, rumah De Stijf/Aryo Bimo (komisaris polisi) dan kedai judi, di tempatkan pada sisi paling depan di sayap kanan dan kiri. Begitu juga arsitektur jembatan didudukkan dengan cerdik sebagai pembatas antara panggung dan penonton sekaligus menutupi keberadaan para pemusik.

Pewarnaan yang dipilih untuk mewakili masa atau tahun berlangsung peristiwa, sekitar tahun 1930, cenderung ke arah sepia — terutama terdapat pada set dan kostum. Pilihan menarik untuk mengajak imajinasi penonton bertamasya ke masa lalu. Pilihan warna bernuansa lembut menyebakan keberadaan beberapa warna cerah mencolok mata pada busana membuat pandangan sedikit terganggu karena menjadi tidak seirama dengan tune warna tata artistik dan cahaya secara holistik.

Pencahayaan yang dipercayakan kepada Mamedz Slasov sebagai penata berusaha mengisi ruang dengan hati-hati. Banyaknya adegan yang berganti ruang dan suasana yang memerlukan ketelitian sebagai bagian dari upaya penanganan. Tidak ada cahaya yang dihadirkan secara mubazir. Semua dihitung dengan cermat sesuai kebutuhan.

Terdapat lapisan-lapisan ruang bermain yang mengharuskan penyesuaian cahaya dapat disiasati dan diatasi dengan baik. Contohnya, ketika seorang pemain masuk pada ruang soliloquay sementara dia berdialog dengan lawan mainnya, cahaya berubah menjadi sorotan satu titik/spot light dan cahaya di sekitarnya diredupkan. Cahaya akan berubah general pada saat memasuki ruang bersama kembali. Pola ini menjadi repetitif di beberapa adegan serupa.

Kalau ada hal yang mengganjal berkait kehadiran cahaya, mungkin di bagian adegan yang masuk dalam satu ruang/wilayah, khususnya saat aktor utama Tan Tjo Lat (diperankan Derry Oktami) bergerak dari ruang tengah/balai-balai ke ruang dalam untuk melakukan panggilan telephone (adegan suap terhadap anak muda kebanci-bancian, Ke Eng/Rafi Athallah), lampu/cahaya ruang tamu diredupkan — tiba-tiba logika ruangnya menjadi janggal.

Seandainya ruang dalam itu tidak terhubung ke balai-balai dan ruang tamu hal tersebut menjadi wajar. Tapi, di beberapa adegan teridentifikasi bahwa kedua ruang itu tidak dihalangi ruang lainnya. Beda lagi sekiranya surut cahaya di ruang depan itu ketika berkaitan dengan panggilan telephone yang dijawab Sinshe Ang Pauw Sian/Fakhri Fahrezy (pemilik toko obat) di sisi berlawanan di adegan sebelumnya. Perlakuan terhadap cahaya demi menegaskan peristiwa sudah tepat; selebihnya, peran cahaya sudah ideal di perjalanan pentas.

Kehadiran musik yang digarap Didit Alamsyah sebagai penata sangat membantu pertunjukan. Tensi atau tegangan dramatik terjaga dengan baik. Dibantu enam orang pemusik, Didit dengan sabar menjaga irama permainan. Fenomena bunyi yang hadir tidak kecentilan sebagaimana kita dapatkan pada pertunjukan komedi yang berusaha memberi efek pengejut dalam mendongkrak peristiwa. Pemilihan bunyi-bunyian minimalis dan musik genre Keroncong menambah kekentalan suasana tempo dulu.

Brilliantika Tamimi Rutjita dan Yasya Arifa sebagai sutradara sudah mengeluarkan kemampuan terbaik mereka. Mengorganisir banyak pemain bukan perkara gampang dengan mengarahkan para aktor sebagai pelakon maupun sebagai petugas pergantian set dan properti. Begitu juga dengan Iqbal Samudra yang bertindak sebagai pimpinan produksi. Memanage biaya produksi dan menghadirkan banyak penonton di gedung sebesar Graha Bhakti Budaya menjadi PR besar tim produksinya. Bisa dibayangkan kerja keras seperti apa yang dijalankan kelompok yang berproses di Selatan Jakarta, Bulungan ini.

Pemilihan tema pertunjukan terkait berita atau informasi bohong sangat relevan dengan keadaan masyarakat kita hari ini. Berita palsu/hoaks yang dikonsumsi orang tanpa diteliti lagi kebenarannya bisa menguntungkan dan merugikan pihak tertentu. Hal yang membedakan hanya pada masa dan kecanggihan teknologinya: hoaks adalah anak kandung yang lahir dari rahim media sosial akibat laju peradaban.

Melalui lakon Zonder Lentera, Kwee Tek Hoay dengan cerdasnya memilih semiotik lentera sebagai tumpuan dramaturgi keseluruhan cerita; zonder (bahasa Belanda bermakna tiada atau tanpa) lentera (bermakna lampu, cahaya, penerang). Berkendara di kegelapan malam tanpa lentera ibarat berjalan dalam kebodohan tanpa cahaya pengetahuan; bukan hanya kecelakaan dan bencana menanti di depan mata, lebih dari itu, matinya cahaya ilmu pengetahuan akan membawa kita kembali ke zaman kegelapan — di mana dunia hanya dipenuhi mitos belaka. Salam.

Coretan Dinding

Jakarta, 29/01/2019

Willem Tan/Candra Eko dan Johan Liem/Randy Anggara (foto: Seketi Tewel)

Did you like this? Share it!

0 comments on “Appreciation Notes By Harris Syaus about Zonder Lentera

Leave Comment