Hening In Pontianak

Pementasan “Hening” di Kalimantan Barat

Kelompok Pojok Goes to Kalimantan barat. Untuk pertama kalinya Kelompok Pojok  pentas di luar kota ,diundang oleh teman-teman dari Pontianak, Kalimantan Barat untuk pentas disana dalam rangka mengisi acara Parade Teater Nusantara. Kelompok Pojok  ini berangkat dengan uang masing-masing, tidak di dukung oleh pihak sponsor. Disana pentas 2 hari berturut-turut tanggal 27-28 November 2014. Naskah yang dimainkan adalah “Hening” karya dan sutradara Iqbal Samudra. Pementasan ini menghadirkan minim sekali dialog, dari adegan awal sampai adegan akhir berisi gerakan-gerakan simbolik. Bagi anda yang ingin menonton, silahkan klik link dibawah ini

https://www.youtube.com/watch?v=BMa2-jNbb4Q

Ternyata penonton di Pontianak memiliki antusiasme yang tinggi terhadap pertunjukan Kelompok Pojok, karena warna pertunjukan yang disuguhkan berbeda dengan warna pertunjukan yang sudah sering dipentaskan oleh grup – grup teater di sana. Pengalaman pentas di luar kota ini sangat berkesan karena bisa bertemu dengan teman-teman “sepermainan” di kota yang berbeda.

our first merger with ep heroges we launch a festival theater only for adolescence and for 30 minutes. that time we have more than 15 groups competing to achieve the best group.

FDPS 2017

The Peranakan litterateur = Forgotten

A couple of kids are making a little mischief. went home without lights on their bicycle, both of them (Willem Tan (Candra Eko Mawarid) and Johan Liem (Randi Anggara), quite witty when try to fool Indo Belanda and Bugis police by giving a fake name and address. however it causes an even bigger problem.

Tan Tjo Lat (Derry Oktami?) the Wijkmeester a.k.a “Bek” : or the snob head governor took advantage from that matter to become Captain Tionghoa, the highest position tionghoa’s ever get in that colonial era. the Bek cause a ruse and hoax. with confessing that he caught the mischief kids itself.

rather than he succeeded to impress Commissar De Stijf (Aryo Bimo), instead he got the worse. the one been brought to the police station is not the real suspect. eventually, Bek then got put behind bars.

the story become the core for “Zonder Lentera” performance which being played by Kelompok Pojok in Graha Bakti Budaya, Ismali Marzuki park, Jakarta, 26th-27th Januari 2019. Zonder Lentera as one of Tionghoa litterateur Kwee Tek Hoay latest creation in 1930, performed for Chinese Lunar New year 5th February 2019.

around 3 hours this tragedy comedy dominated Zonder Lentera presented epic by the duet of young directors Brilliantika Tamimi Rutjit and Yasya Arifa. almost in each 13 scene that has been brought are filled with laughter. stage production, set, props, wardrobe, the style of Malay Pasar dialogs, till the sounds of keroncong music played live by the team of Didit Alamsyah,  has decently carry the audience to 1930 pecinan ambiance.

Ini merupakan kali kedua Kelompok Pojok mementaskan karya Kwee Tek Hoay. Pada 2018, mereka membawa novel Nonton Cap Go Me ke atas panggung. “Kami sudah lama menyukai karya-karya Tek Hoay. Dia tokoh hebat yang terlupakan. Lewat karya kini kita ingin memberitahu masyarakat bahwa kaum peranakan (Tionghoa) juga Indonesia,” ujar sang pemimpin produksi Iqbal Samudra kepada Historia.

Kelompok Pojok jelas bukan satu-satunya grup teater yang pernah mementaskan novel-novel Tek Hoay. Sebelumnya, ada Teater Bejana, Kelompok Main Teater, Teater Koma, hingga grup legendaris Dardanella di masa lampau.

Wartawan, Sastrawan & Agamawan

Kwee Tek Hoay lahir pada 31 Juli 1886 di “Kota Hujan” Bogor sebagai anak bungsu dari pasutri Kwee Tjiam Hong dan Tan Ay Nio. Sejak kecil, buku sudah jadi kegemarannya sembari membantu bisnis tekstil ayahnya. Rasa penasarannya yang tinggi akan kesastraan membuatnya sering bolos sekolah.

Tidak hanya bahasa Hokkian, Tek Hoay muda fasih berbahasa Melayu, Belanda, dan Inggris. “Bahasa Inggris dipelajarinya secara privat dari S. Maharaja, seorang India yang jadi gurunya di sekolah Tiong Hoa Hwee Koan, Bogor. Sedangkan bahasa Belanda dipelajarinya dari Lebberton dan Wotman, pengurus Loge Theosophie, Bogor,” ujar Jamal D. Rahman dalam 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh.

Sedari masa sekolah pula Tek Hoay sudah gandrung mengirim tulisan novel ke berbagai media cetak seperti Sin PoHo PoLi Po atau Bintang Betawi. Namanya di dunia jurnalistik mulai dikenal lewat sejumlah pecahan tulisan bertajuk “Pemandangan Perang Dunia I Tahun 1914-1918” yang dimuat di Sin Po.

Setelah jadi pemimpin redaksi (pemred) Majalah Ho Po dan Koran Li Po di Bogor, Tek Hoay bertualang ke Jakarta dengan bergabung ke suratkabar Sin Po. Pada 1926, dia mendirikan tabloid mingguan Panorama. “Majalah itu dimanfaatkannya untuk menyuarakan pandangan politiknya yang kerap dianggap kontroversial oleh para pemimpin koran lain yang menjadi pesaingnya,” lanjut Jamal.

Di dunia teater, Tek Hoay empat tahun (1926-1930) menakhodai grup drama Miss Intan. Dari dunia jurnalistik dan teater itulah Kwee Tek Hoay menambah khazanah pengetahuannya tentang kehidupan masyarakat akar bawah di berbagai wilayah Hindia-Belanda yang bermuara pada ditelurkannya banyak karya “merakyat” dengan bahasa Melayu-Rendah.

Beberapa karya awal drama dan novelnya yang dikenal luas antara lain Allah jang Palsoe (1919) dan Boenga Roos dari Tjikembang (1927). Karya-karya itu beberapa kali dimainkan grup legendaris Dardanella dengan sejumlah seniman sohor: Miss Dja (Dewi Dja), Tan Tjeng Bok, hingga Andjas Asmara.

Karya berjudul Boenga Roos dari Tjikembang bahkan pernah diangkat ke layar lebar. Leo Suryadinata dalam Prominent Indonesian Chinese: Biographical Sketchesmengungkapkan, novel Tek Hoay itu diangkat sineas The Teng Chun pada 1931 sebagai film bersuara pertama di Indonesia dengan judul yang sama.

Selain tokoh di bidang jurnalistik dan sastra-budaya, Tek Hoay merupakan figur agamawan berpengaruh. Tiga buku agama dikeluarkannya: Buddha Gautama (1931-1933), Sembahjang, dan Meditatie (1932). Abdul Syukur dalam “Keterlibatan Etnis Tionghoa dan Agama Buddha: Sebelum dan Sesudah Reformasi 1998” yang dimuat dalam Setelah Air Mata Kering: Masyarakat Tionghoa Pasca-Peristiwa Mei 1998 menulis, Tek Hoay mendirikan organisasi tiga agama (Tridharma) Sam Kauw Hwee, yakni Konfusianisme, Taoisme, dan Buddhisme pada 1934. Tujuannya, agar masyarakat peranakan Tionghoa lebih memahami ajaran agama mereka.

Namun hidup Tek Hoay berakhir nahas. Pada 4 Juli 1952, rumahnya di Cicurug, Sukabumi dirampok. Tek Hoay tewas dalam perampokan dengan kekerasan itu. Sesuai wasiatnya semasa hidup, jenazahnya dikremasi. Ia jadi orang Tionghoa pertama yang jenazahnya diperabukan di Indonesia dan diikuti sebagian besar kaumnya hingga kini.

Figur Terlupakan

Selama lebih dari dua dasawarsa berkarya, Tek Hoay menghasilkan 115 novel. “Suatu prestasi (115 karya) yang sulit tertandingi oleh penulis Indonesia dari kurun kapanpun. Meminjam ungkapan Jakob Sumardjo (dalam 100 Tahun Kwee Tek Hoay), ‘suatu fenomena yang luar biasa dalam sejarah sastra di Indonesia’,” kata Ibnu di kata pengantar buku Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia: Jilid 4.

Namun, nama Tek Hoay tenggelam di dunia kesusastraan Indonesia. Menurut Ibnu, ada empat penyebab nama Tek Hoay tak tertera di buku-buku sejarah kesusastraan Indonesia. Pertama, orientasi karya hanya memasukkan karya-karya sastrawan yang sudah dibukukan saja ke dalam buku sejarah sastra. Kedua, media bahasa, di mana yang diakui hanya karya-karya dengan bahasa Melayu-Tinggi. Ketiga, muatan karya, di mana beberapa karya Tek Hoay secara politis menyerang pemerintah kolonial. Keempat, kuatnya diskriminasi, hanya penulis “asli Indonesia” alias bumiputera yang pantas disebut sastrawan Indonesia

Padahal, karya-karya Tek Hoay juga “berbicara kebangsaan”. Tentu kebangsaan yang dimaksud adalah bangsa bernama Indonesia, yang terdiri dari beragam etnis dan di masa kolonial “dipersatukan” oleh bahasa Melayu-Rendah sebagai lingua-franca.

Selain itu, keragaman yang hadir dalam karya-karya Tek Hoay sangat kaya. Yang terpenting, masalah-masalah yang diangkat dalam karya-karyanya masih sangat relevan hingga kini. Cap Go Me, misalnya, berkisah tentang pertentangan pandangan tradisional dan modern. Zonder Lentera mengangkat tentang pejabat yang merekayasa perkara dan menebar hoax demi menggapai kekuasaan.

“Tahun ini sebagai pesta demokrasi (Pemilu dan Pilpres 2019) yang seharusnya jadi pesta menyenangkan, justru malah menjadi pesta hoax. Maka dari itu, Zonder Lentera, seperti menjadi cerminan dari zaman ini, di mana hoax menjadi masalah yang utama dalam pesta demokrasi,” tandas Iqbal Samudra.

https://historia.id/kultur/articles/sastrawan-peranakan-yang-terlupakan-Pzjl8

written by

05 February 2019

Kelompok Pojok March Up Bengkulu Cultural Ground

The cast of Groundhog Day, led by Tony nominee Andy Karl, turned Rockefeller Plaza into Punxsutawney, Pennsylvania, April 27 as they showcased the new musical on The Today Show. Watch the performance, which was part of the NBC show’s “Best of Broadway” week, below. The company—with the help of The Today Show’s weather guru Al Roker—performed the Act II number “Philanthropy,” in which Phil Connors spreads cheer and good deeds around the small town.

Read More

Theater Parade Established by Kelompok Pojok

The Alvin Ailey Dance Foundation is raising the roof: it held a ceremonial “roof-breaking” performance on Tuesday to mark the beginning of a $25 million construction project that will add three more stories of studios, classrooms and offices to its Manhattan home. The expansion of the building, the Joan Weill Center for Dance, which opened in 2005, is being designed by Iu & Bibliowicz Architects.

Read More

Jelang Imlek, Kelompok Pojok Persembahkan Teater Drama Komedi Klasik karya Kwee Tek Hoay

Jakarta – Kemeriahan Tahun Baru Cina (Imlek 2569) pada 16 Februari 2018 sudah menjadi milik semua masyarakat Indonesia. Masih dalam suasana menyambut imlek, Teater kelompok pojok yang didukung oleh para seniman bulungan siap mementaskan sebuah naskah yang berjudul Nonton Capgome, sebuah naskah yang ditulis pada tahun 1930-an oleh seorang sastrawan sekaligus wartawan yang revoluisoner pada masanya yaitu Kwee Tek Hoay.

Lakon pertunjukan yang naskahnya ditulis pada tahun 1930-an ini rencanya akan dipentaskan di gedung Graha Bkati Budaya, Taman Ismail Marzuki selama dua hari berturut-turut yaitu pada hari Sabtu tanggal 10 Februari 2018 pada pukul 19.30 wib serta Minggu 11 Februari 2018 pada pukul 16.00 wib.

Menurut Tamimi selaku Sutradara Pertunjukan Cap Gomeh mengatakan “Memainkan naskah ini tentu sudah kami pikirkan sejak lama. Kami ingin agar generasi saat ini tahu bahwa dulu bangsa ini juga memiliki bahasa melayu passer, bahasa yang telah menjadi pemersatu bangsa tidak hanya di negeri ini, tetapi juga di kawasan asia tenggara. “ Jelasnya

Lebih lanjut lagi Tamimi memaparkan bahwa alasan lainnya dari pada semua itu adalah mereka ingin mengatakan bahwa para keturunan tionghoa pada saat itu mengaggap diri mereka bukanlah bangsa lain, melainkan satu yaitu Indonesia. ujar Tamimi yang ditemui Sinarpaginews di Taman Ismail Marzuki, Jumat (9/2/2018).

Mereka ingin kesalahpahaman yang selama ini ada dan tertanam dalam benak masyarakat “pribumi” tentang “ cina ” berubah, karena ini memang devide et impera warisan kolonial.

“ Kami hanya ingin bangsa ini menjadi tunggal ika di dalam kebhinekaannya. Bahwa mereka juga adalah kita yaitu Indonesia dan tidak ada yang membedakan antara kita dan mereka. Itu spirit kami dalam menggarap pertunjukan ini yang juga dalah spirit sang penulis itu juga,“ Pungkas Tamimi.

Acara yang didukung penuh oleh Asosiasi Peranakan Tionghoa Indonesia atau biasa disingkat ASPERTINA serta Yayasan KOCI Jakarta telah dipersiapkan selama hampir 1 tahun dimana selama enam bulan pertama Kelompok Pojok yang sehari-harinya bermarkas di Bulungan, Jakarta Selatan ini melakukan riset mengenai sejarah masuknya orang-orang Tionghoa di Indonesia, lalu bagaimana tradisi adat dan istiadat peranakan tionghoa di Indonesia dan lain sebagainya, bahkan risetpun dilakukan sampai ke kawasan cina benteng dan Semarang.

Pertunjukan dengan genre drama komedi ini akan terasa berbeda daripada pertunjukan lainnya karena semua bahasa yang digunakan masih menggunakan bahasa melayu passer atau melayu tionghoa peranakan yang memang populer pada tahun naskah ini dibuat namun tidak menghilangkan esensi dari cerita tersebut sehingga penonton di era milenia sekrang ini masih dapat mengerti akan ucapan semua pemain tersebut. ((rul)

written by Chairul Ikhsan

http://www.sinarpaginews.com/hiburan/8526/jelang-imlek-kelompok-pojok-persembahkan-teater-drama-komedi-klasik-karya-kwee-tek-hoay.html