The Peranakan litterateur = Forgotten

A couple of kids are making a little mischief. went home without lights on their bicycle, both of them (Willem Tan (Candra Eko Mawarid) and Johan Liem (Randi Anggara), quite witty when try to fool Indo Belanda and Bugis police by giving a fake name and address. however it causes an even bigger problem.

Tan Tjo Lat (Derry Oktami?) the Wijkmeester a.k.a “Bek” : or the snob head governor took advantage from that matter to become Captain Tionghoa, the highest position tionghoa’s ever get in that colonial era. the Bek cause a ruse and hoax. with confessing that he caught the mischief kids itself.

rather than he succeeded to impress Commissar De Stijf (Aryo Bimo), instead he got the worse. the one been brought to the police station is not the real suspect. eventually, Bek then got put behind bars.

the story become the core for “Zonder Lentera” performance which being played by Kelompok Pojok in Graha Bakti Budaya, Ismali Marzuki park, Jakarta, 26th-27th Januari 2019. Zonder Lentera as one of Tionghoa litterateur Kwee Tek Hoay latest creation in 1930, performed for Chinese Lunar New year 5th February 2019.

around 3 hours this tragedy comedy dominated Zonder Lentera presented epic by the duet of young directors Brilliantika Tamimi Rutjit and Yasya Arifa. almost in each 13 scene that has been brought are filled with laughter. stage production, set, props, wardrobe, the style of Malay Pasar dialogs, till the sounds of keroncong music played live by the team of Didit Alamsyah,  has decently carry the audience to 1930 pecinan ambiance.

Ini merupakan kali kedua Kelompok Pojok mementaskan karya Kwee Tek Hoay. Pada 2018, mereka membawa novel Nonton Cap Go Me ke atas panggung. “Kami sudah lama menyukai karya-karya Tek Hoay. Dia tokoh hebat yang terlupakan. Lewat karya kini kita ingin memberitahu masyarakat bahwa kaum peranakan (Tionghoa) juga Indonesia,” ujar sang pemimpin produksi Iqbal Samudra kepada Historia.

Kelompok Pojok jelas bukan satu-satunya grup teater yang pernah mementaskan novel-novel Tek Hoay. Sebelumnya, ada Teater Bejana, Kelompok Main Teater, Teater Koma, hingga grup legendaris Dardanella di masa lampau.

Wartawan, Sastrawan & Agamawan

Kwee Tek Hoay lahir pada 31 Juli 1886 di “Kota Hujan” Bogor sebagai anak bungsu dari pasutri Kwee Tjiam Hong dan Tan Ay Nio. Sejak kecil, buku sudah jadi kegemarannya sembari membantu bisnis tekstil ayahnya. Rasa penasarannya yang tinggi akan kesastraan membuatnya sering bolos sekolah.

Tidak hanya bahasa Hokkian, Tek Hoay muda fasih berbahasa Melayu, Belanda, dan Inggris. “Bahasa Inggris dipelajarinya secara privat dari S. Maharaja, seorang India yang jadi gurunya di sekolah Tiong Hoa Hwee Koan, Bogor. Sedangkan bahasa Belanda dipelajarinya dari Lebberton dan Wotman, pengurus Loge Theosophie, Bogor,” ujar Jamal D. Rahman dalam 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh.

Sedari masa sekolah pula Tek Hoay sudah gandrung mengirim tulisan novel ke berbagai media cetak seperti Sin PoHo PoLi Po atau Bintang Betawi. Namanya di dunia jurnalistik mulai dikenal lewat sejumlah pecahan tulisan bertajuk “Pemandangan Perang Dunia I Tahun 1914-1918” yang dimuat di Sin Po.

Setelah jadi pemimpin redaksi (pemred) Majalah Ho Po dan Koran Li Po di Bogor, Tek Hoay bertualang ke Jakarta dengan bergabung ke suratkabar Sin Po. Pada 1926, dia mendirikan tabloid mingguan Panorama. “Majalah itu dimanfaatkannya untuk menyuarakan pandangan politiknya yang kerap dianggap kontroversial oleh para pemimpin koran lain yang menjadi pesaingnya,” lanjut Jamal.

Di dunia teater, Tek Hoay empat tahun (1926-1930) menakhodai grup drama Miss Intan. Dari dunia jurnalistik dan teater itulah Kwee Tek Hoay menambah khazanah pengetahuannya tentang kehidupan masyarakat akar bawah di berbagai wilayah Hindia-Belanda yang bermuara pada ditelurkannya banyak karya “merakyat” dengan bahasa Melayu-Rendah.

Beberapa karya awal drama dan novelnya yang dikenal luas antara lain Allah jang Palsoe (1919) dan Boenga Roos dari Tjikembang (1927). Karya-karya itu beberapa kali dimainkan grup legendaris Dardanella dengan sejumlah seniman sohor: Miss Dja (Dewi Dja), Tan Tjeng Bok, hingga Andjas Asmara.

Karya berjudul Boenga Roos dari Tjikembang bahkan pernah diangkat ke layar lebar. Leo Suryadinata dalam Prominent Indonesian Chinese: Biographical Sketchesmengungkapkan, novel Tek Hoay itu diangkat sineas The Teng Chun pada 1931 sebagai film bersuara pertama di Indonesia dengan judul yang sama.

Selain tokoh di bidang jurnalistik dan sastra-budaya, Tek Hoay merupakan figur agamawan berpengaruh. Tiga buku agama dikeluarkannya: Buddha Gautama (1931-1933), Sembahjang, dan Meditatie (1932). Abdul Syukur dalam “Keterlibatan Etnis Tionghoa dan Agama Buddha: Sebelum dan Sesudah Reformasi 1998” yang dimuat dalam Setelah Air Mata Kering: Masyarakat Tionghoa Pasca-Peristiwa Mei 1998 menulis, Tek Hoay mendirikan organisasi tiga agama (Tridharma) Sam Kauw Hwee, yakni Konfusianisme, Taoisme, dan Buddhisme pada 1934. Tujuannya, agar masyarakat peranakan Tionghoa lebih memahami ajaran agama mereka.

Namun hidup Tek Hoay berakhir nahas. Pada 4 Juli 1952, rumahnya di Cicurug, Sukabumi dirampok. Tek Hoay tewas dalam perampokan dengan kekerasan itu. Sesuai wasiatnya semasa hidup, jenazahnya dikremasi. Ia jadi orang Tionghoa pertama yang jenazahnya diperabukan di Indonesia dan diikuti sebagian besar kaumnya hingga kini.

Figur Terlupakan

Selama lebih dari dua dasawarsa berkarya, Tek Hoay menghasilkan 115 novel. “Suatu prestasi (115 karya) yang sulit tertandingi oleh penulis Indonesia dari kurun kapanpun. Meminjam ungkapan Jakob Sumardjo (dalam 100 Tahun Kwee Tek Hoay), ‘suatu fenomena yang luar biasa dalam sejarah sastra di Indonesia’,” kata Ibnu di kata pengantar buku Kesastraan Melayu Tionghoa dan Kebangsaan Indonesia: Jilid 4.

Namun, nama Tek Hoay tenggelam di dunia kesusastraan Indonesia. Menurut Ibnu, ada empat penyebab nama Tek Hoay tak tertera di buku-buku sejarah kesusastraan Indonesia. Pertama, orientasi karya hanya memasukkan karya-karya sastrawan yang sudah dibukukan saja ke dalam buku sejarah sastra. Kedua, media bahasa, di mana yang diakui hanya karya-karya dengan bahasa Melayu-Tinggi. Ketiga, muatan karya, di mana beberapa karya Tek Hoay secara politis menyerang pemerintah kolonial. Keempat, kuatnya diskriminasi, hanya penulis “asli Indonesia” alias bumiputera yang pantas disebut sastrawan Indonesia

Padahal, karya-karya Tek Hoay juga “berbicara kebangsaan”. Tentu kebangsaan yang dimaksud adalah bangsa bernama Indonesia, yang terdiri dari beragam etnis dan di masa kolonial “dipersatukan” oleh bahasa Melayu-Rendah sebagai lingua-franca.

Selain itu, keragaman yang hadir dalam karya-karya Tek Hoay sangat kaya. Yang terpenting, masalah-masalah yang diangkat dalam karya-karyanya masih sangat relevan hingga kini. Cap Go Me, misalnya, berkisah tentang pertentangan pandangan tradisional dan modern. Zonder Lentera mengangkat tentang pejabat yang merekayasa perkara dan menebar hoax demi menggapai kekuasaan.

“Tahun ini sebagai pesta demokrasi (Pemilu dan Pilpres 2019) yang seharusnya jadi pesta menyenangkan, justru malah menjadi pesta hoax. Maka dari itu, Zonder Lentera, seperti menjadi cerminan dari zaman ini, di mana hoax menjadi masalah yang utama dalam pesta demokrasi,” tandas Iqbal Samudra.

https://historia.id/kultur/articles/sastrawan-peranakan-yang-terlupakan-Pzjl8

written by

05 February 2019